Kala menanti muntah dimukamu
Aku berkiblat nyinyir menjadi remuk
Entah apa genggam menjadi begitu meleleh diterik hari
Tak heran aku mengkerutkan dahi lalu menatapmu
Seberapa bijak angin memarahi
Yang asing kelam-kelam yang menghantui dari dara sepertimu
Aku tak serupa dan tak sehebat engkau yang selalu berkata "wow"
Meski sesak lalu disimpan dalam hati
Kenapa baru kali ini merasa siang ada dalam kantong tasku
Membawa serta panas yang menjadi terik didahaga
Kenapa malam tak kunjung tiba diantara rasa kantukku
Bukannya terbiasa dan ingin dirindui mimpi dalam tidur
Aku yang ingin mengajakmu bertukar senyum dan bergandeng tangan
Menjadi begitu gagu lalu nyeri dan engkau tak tahu
Padahal engkau lebih pintar dibanding aku merangkai abjad
Kita pernah terjebak putus asa
Lalu bangkit kembali setelah engkau mengajak makan siang diberanda hasratmu
Kita tak lantas mundur lalu bubar
Kita mencoba bermain layang-layang meski tali kita tak sekuat besi
Aku iri pada lensamu
Pada sesenyum engkau menarik diri dikamar mandi
Entah engkau membuang apa saja yang menurutmu risih
Sedangkan aku hanya diam dan ditelan
Aku lunglai dan terima segala kemilauanmu
Meski aku tak dapat menjadi diri seperti engkau
Serupa diri mengucap selamat pagi dengan lentangnya