Jumat, 20 April 2012

Dirindui Mimpi

Kala menanti muntah dimukamu

Aku berkiblat nyinyir menjadi remuk
Entah apa genggam menjadi begitu meleleh diterik hari
Tak heran aku mengkerutkan dahi lalu menatapmu

Seberapa bijak angin memarahi

Yang asing kelam-kelam yang menghantui dari dara sepertimu
Aku tak serupa dan tak sehebat engkau yang selalu berkata "wow"
Meski sesak lalu disimpan dalam hati 

Kenapa baru kali ini merasa siang ada dalam kantong tasku

Membawa serta panas yang menjadi terik didahaga
Kenapa malam tak kunjung tiba diantara rasa kantukku
Bukannya terbiasa dan ingin dirindui mimpi dalam tidur

Aku yang ingin mengajakmu bertukar senyum dan bergandeng tangan

Menjadi begitu gagu lalu nyeri dan engkau tak tahu
Padahal engkau lebih pintar dibanding aku merangkai abjad

Kita pernah terjebak putus asa

Lalu bangkit kembali setelah engkau mengajak makan siang diberanda hasratmu
Kita tak lantas mundur lalu bubar
Kita mencoba bermain layang-layang meski tali kita tak sekuat besi

Aku iri pada lensamu

Pada sesenyum engkau menarik diri dikamar mandi
Entah engkau membuang apa saja yang menurutmu risih
Sedangkan aku hanya diam dan ditelan

Aku lunglai dan terima segala kemilauanmu

Meski aku tak dapat menjadi diri seperti engkau
Serupa diri mengucap selamat pagi dengan lentangnya