Rabu, 01 Agustus 2012

Musim berlalu di biru langit sore
Pintu yang melebar seolah ingin memeluk diri
Kasih sebiru lautan menyelimut merdu
Kapankah aku pulang berbinar serupa berlian


Tak seramah bulan ini
Dikursimu aku membela diri
Apakah engkau pernah merasa memenjarakan diri sendiri didalam keinginanmu?

Jumat, 20 Juli 2012

Tiba-tiba seperti diserang
Lalu mengadu yang disebut kepintaran
Pantas saja lidah berbelit 
dengan gumaman 
seolah-olah engkau paling benar


Seperti diserang
dan
aku tertunduk heran.

Selasa, 17 Juli 2012

Juli
 kenapa 
mengasing?
dan 
banyak 
lontaran 
kotor 
untukku.

Rabu, 23 Mei 2012

Aku Iri Sebagaimana Mestinya

Aku iri
Pada saat engkau memberi makan hewan peliharaanmu
Pada saat engkau bernyanyi dengan percaya diri dan memamerkannya
Pada saat tulisanmu dibuat sayu-sayu
Pada saat engkau duduk mengangkat kedua kakimu di meja
Sungguh iri entah benci tanpa mengapa


Kita tak pernah duduk satu meja makan. Kita hanya bertemu saling memandang tanpa bersungging senyuman. Aku ingin mengenalmu lebih jauh,sebagaimana aku menyalahkanmu melukai hati tanpa engkau ketahui. Kalau saja rimbunan dedaunan tutupi hati, mungkin takan aku pandangi matamu. Bagaimana engkau menganggap harapanmu selalu menjulang panjang padahal engkau sendiri menceritakan kekucilan hatimu. Lantas aku iri yang selalu engkau lakukan terhadapku. Mungkin nanti pengalamanmu kelak di depan adalah cerita dariku yang hendak engkau alami.

Jumat, 20 April 2012

Dirindui Mimpi

Kala menanti muntah dimukamu

Aku berkiblat nyinyir menjadi remuk
Entah apa genggam menjadi begitu meleleh diterik hari
Tak heran aku mengkerutkan dahi lalu menatapmu

Seberapa bijak angin memarahi

Yang asing kelam-kelam yang menghantui dari dara sepertimu
Aku tak serupa dan tak sehebat engkau yang selalu berkata "wow"
Meski sesak lalu disimpan dalam hati 

Kenapa baru kali ini merasa siang ada dalam kantong tasku

Membawa serta panas yang menjadi terik didahaga
Kenapa malam tak kunjung tiba diantara rasa kantukku
Bukannya terbiasa dan ingin dirindui mimpi dalam tidur

Aku yang ingin mengajakmu bertukar senyum dan bergandeng tangan

Menjadi begitu gagu lalu nyeri dan engkau tak tahu
Padahal engkau lebih pintar dibanding aku merangkai abjad

Kita pernah terjebak putus asa

Lalu bangkit kembali setelah engkau mengajak makan siang diberanda hasratmu
Kita tak lantas mundur lalu bubar
Kita mencoba bermain layang-layang meski tali kita tak sekuat besi

Aku iri pada lensamu

Pada sesenyum engkau menarik diri dikamar mandi
Entah engkau membuang apa saja yang menurutmu risih
Sedangkan aku hanya diam dan ditelan

Aku lunglai dan terima segala kemilauanmu

Meski aku tak dapat menjadi diri seperti engkau
Serupa diri mengucap selamat pagi dengan lentangnya

Selasa, 20 Maret 2012

Begitulah


Mereka memusuhi aku
Katanya demikian suara dadaku begitu gaduh


Aku meracau pada matahari yang rewel
Segenap menjadi hitam kabut dimata
Yang tertera diwallpaper handphone mu ialah mendung bergelut petir yang dulu aku tiup


Aku percaya
Segala pedih diredam pada bantal
Cukupkan segala walau kurang dikantong celana yang bolong
Entahlah aku hanya menyampaikan katanya lewat senyuman membius aku


Cobalah berkacak pinggang lalu memarahiku
Saat itu aku akan bersorak gembira
Lebih apapun aku senang engkau memarahiku
Melaju ego yang engkau melulu tersembunyi dikemeja merah jambumu


Aku menata kangen yang rumit didalammu
Segala menjadi salah yang berbalas tai menjijikan
Aku tertahan walau mata sudah berkaca-kaca
Lalu aku telan ludah mengganjal ditenggorokan
Sebegitu parahkah kangen kita?

Senin, 12 Maret 2012

Aku hanya punya itu sayang 

Bukan siapa diriku
Dalam diri mengapa aku tidak menjadi engkau
Tak ada yang indah dikacamatamu
Sebanyak diri memegang kendali

Aku senang bersembunyi 
Lalu pura-pura takut
Padahal yang menantiku aku malas menyentuh

Serupa api membakar padahal aku punya banyak air
Yang didikte itu sangat jelas terbata-bata
Yang cacat cuman pena dalam tulisan
Masih saja menggebu iri dihati

Tidak tahu bagaimana bernyanyi merdu didendang telingamu?
Saat suara parau melindas ditenggorokan lalu engkau tertunduk pasrah saja
Aku hanya punya itu sayang.

Nanti setahun lagi aku kembali
Membawa tape recorder
Lalu siap mengajakmu berdansa
Tanpa tepuk tangan
Karena bagiku terlalu berlebihan
Untuk orang sepertiku
Saat itu aku tengah asik bersembunyi, ngobrol dengan tembok serasa menyenangkan.


Ketika lapar aku berteriak saja sudah cukup,dan
Ketika nyeri diam saja sudah terpenuhi segala hasrat.

Rabu, 29 Februari 2012

Kenapa gembor-gembor bising dalam nadiku
Lapar meminta makan yang sejahtera
Apa guna memimpin badan hinggi diujung tersayati
Minta aku minta mundur
Sekursi denganmu dalam kereta
Tak tau apa nanti jadinya setiba diri kita ditebing itu
Ayo meloncat
Siapa nanti lebih sombong mengeja abjad dunia
Mintalah sewaktu-waktu berjalan mundur


Tak perlu berpura bodoh sepertiku
Coba engkau tutup jendela dijumat siang nanti
Dan tak perlu menorehkan tanda tanya dijitanya 
Jangan mau dijamu madu
Mintalah sesejuk angin dalam dekapan gelisah membanjiri kaku tubuhmu
Bila nanti diwaktu jumat engkau dengar kembali suara dada
Cepat berkemas dan kenakan topi
Jangan mau lagi dijamu arak
Tetap tutup jendela dan pintu
Bila jumat sore tetap begitu
Bergegas pergi dan pakai sepatumu
Pergilah dengan sore walau harus memakai payung
Mintalah sewaktu-waktu agar ia berjalan mundur
Semudah diri engkau tak mau melihat punggungnya pergi
Yang lapar ialah kegelisahan yang menjadi kenyang


Beri sepotong roti dicelanaku
Meminum anggur dibajuku
Biar mabuk diserap dada
Ialah betapa ingkarnya kepada mentari
Takut, seperti tak ada lagi hari berikutnya lagi
Yang lapar ialah kegelisahan yang menjadi kenyang
Meski tak dijamu minum sudah biasa.

Selasa, 21 Februari 2012

Yang maaf dimana mulutnya
Dibalik memekik senyum berpura
Hanya saja dusta ada dikantong celanaku
Seperti menang dalam sore tanpa hujan.