Seperti tertangkap
Jumat, 14 Desember 2012
Rabu, 01 Agustus 2012
Jumat, 20 Juli 2012
Rabu, 23 Mei 2012
Aku Iri Sebagaimana Mestinya
Aku iri
Pada saat engkau memberi makan hewan peliharaanmu
Pada saat engkau bernyanyi dengan percaya diri dan memamerkannya
Pada saat tulisanmu dibuat sayu-sayu
Pada saat engkau duduk mengangkat kedua kakimu di meja
Sungguh iri entah benci tanpa mengapa
Kita tak pernah duduk satu meja makan. Kita hanya bertemu saling memandang tanpa bersungging senyuman. Aku ingin mengenalmu lebih jauh,sebagaimana aku menyalahkanmu melukai hati tanpa engkau ketahui. Kalau saja rimbunan dedaunan tutupi hati, mungkin takan aku pandangi matamu. Bagaimana engkau menganggap harapanmu selalu menjulang panjang padahal engkau sendiri menceritakan kekucilan hatimu. Lantas aku iri yang selalu engkau lakukan terhadapku. Mungkin nanti pengalamanmu kelak di depan adalah cerita dariku yang hendak engkau alami.
Jumat, 20 April 2012
Dirindui Mimpi
Kala menanti muntah dimukamu
Aku berkiblat nyinyir menjadi remuk
Entah apa genggam menjadi begitu meleleh diterik hari
Tak heran aku mengkerutkan dahi lalu menatapmu
Seberapa bijak angin memarahi
Yang asing kelam-kelam yang menghantui dari dara sepertimu
Aku tak serupa dan tak sehebat engkau yang selalu berkata "wow"
Meski sesak lalu disimpan dalam hati
Kenapa baru kali ini merasa siang ada dalam kantong tasku
Membawa serta panas yang menjadi terik didahaga
Kenapa malam tak kunjung tiba diantara rasa kantukku
Bukannya terbiasa dan ingin dirindui mimpi dalam tidur
Aku yang ingin mengajakmu bertukar senyum dan bergandeng tangan
Menjadi begitu gagu lalu nyeri dan engkau tak tahu
Padahal engkau lebih pintar dibanding aku merangkai abjad
Kita pernah terjebak putus asa
Lalu bangkit kembali setelah engkau mengajak makan siang diberanda hasratmu
Kita tak lantas mundur lalu bubar
Kita mencoba bermain layang-layang meski tali kita tak sekuat besi
Aku iri pada lensamu
Pada sesenyum engkau menarik diri dikamar mandi
Entah engkau membuang apa saja yang menurutmu risih
Sedangkan aku hanya diam dan ditelan
Aku lunglai dan terima segala kemilauanmu
Meski aku tak dapat menjadi diri seperti engkau
Serupa diri mengucap selamat pagi dengan lentangnya
Kala menanti muntah dimukamu
Aku berkiblat nyinyir menjadi remuk
Entah apa genggam menjadi begitu meleleh diterik hari
Tak heran aku mengkerutkan dahi lalu menatapmu
Seberapa bijak angin memarahi
Yang asing kelam-kelam yang menghantui dari dara sepertimu
Aku tak serupa dan tak sehebat engkau yang selalu berkata "wow"
Meski sesak lalu disimpan dalam hati
Kenapa baru kali ini merasa siang ada dalam kantong tasku
Membawa serta panas yang menjadi terik didahaga
Kenapa malam tak kunjung tiba diantara rasa kantukku
Bukannya terbiasa dan ingin dirindui mimpi dalam tidur
Aku yang ingin mengajakmu bertukar senyum dan bergandeng tangan
Menjadi begitu gagu lalu nyeri dan engkau tak tahu
Padahal engkau lebih pintar dibanding aku merangkai abjad
Kita pernah terjebak putus asa
Lalu bangkit kembali setelah engkau mengajak makan siang diberanda hasratmu
Kita tak lantas mundur lalu bubar
Kita mencoba bermain layang-layang meski tali kita tak sekuat besi
Aku iri pada lensamu
Pada sesenyum engkau menarik diri dikamar mandi
Entah engkau membuang apa saja yang menurutmu risih
Sedangkan aku hanya diam dan ditelan
Aku lunglai dan terima segala kemilauanmu
Meski aku tak dapat menjadi diri seperti engkau
Serupa diri mengucap selamat pagi dengan lentangnya
Selasa, 20 Maret 2012
Begitulah
Mereka memusuhi aku
Katanya demikian suara dadaku begitu gaduh
Aku meracau pada matahari yang rewel
Segenap menjadi hitam kabut dimata
Yang tertera diwallpaper handphone mu ialah mendung bergelut petir yang dulu aku tiup
Aku percaya
Segala pedih diredam pada bantal
Cukupkan segala walau kurang dikantong celana yang bolong
Entahlah aku hanya menyampaikan katanya lewat senyuman membius aku
Cobalah berkacak pinggang lalu memarahiku
Saat itu aku akan bersorak gembira
Lebih apapun aku senang engkau memarahiku
Melaju ego yang engkau melulu tersembunyi dikemeja merah jambumu
Aku menata kangen yang rumit didalammu
Segala menjadi salah yang berbalas tai menjijikan
Aku tertahan walau mata sudah berkaca-kaca
Lalu aku telan ludah mengganjal ditenggorokan
Sebegitu parahkah kangen kita?
Mereka memusuhi aku
Katanya demikian suara dadaku begitu gaduh
Aku meracau pada matahari yang rewel
Segenap menjadi hitam kabut dimata
Yang tertera diwallpaper handphone mu ialah mendung bergelut petir yang dulu aku tiup
Aku percaya
Segala pedih diredam pada bantal
Cukupkan segala walau kurang dikantong celana yang bolong
Entahlah aku hanya menyampaikan katanya lewat senyuman membius aku
Cobalah berkacak pinggang lalu memarahiku
Saat itu aku akan bersorak gembira
Lebih apapun aku senang engkau memarahiku
Melaju ego yang engkau melulu tersembunyi dikemeja merah jambumu
Aku menata kangen yang rumit didalammu
Segala menjadi salah yang berbalas tai menjijikan
Aku tertahan walau mata sudah berkaca-kaca
Lalu aku telan ludah mengganjal ditenggorokan
Sebegitu parahkah kangen kita?
Senin, 12 Maret 2012
Aku hanya punya itu sayang
Dalam diri mengapa aku tidak menjadi engkau
Tak ada yang indah dikacamatamu
Sebanyak diri memegang kendali
Aku senang bersembunyi
Lalu pura-pura takut
Padahal yang menantiku aku malas menyentuh
Serupa api membakar padahal aku punya banyak air
Yang didikte itu sangat jelas terbata-bata
Yang cacat cuman pena dalam tulisan
Masih saja menggebu iri dihati
Tidak tahu bagaimana bernyanyi merdu didendang telingamu?
Saat suara parau melindas ditenggorokan lalu engkau tertunduk pasrah saja
Aku hanya punya itu sayang.
Nanti setahun lagi aku kembali
Membawa tape recorder
Lalu siap mengajakmu berdansa
Tanpa tepuk tangan
Karena bagiku terlalu berlebihan
Untuk orang sepertiku
Rabu, 29 Februari 2012
Mintalah sewaktu-waktu berjalan mundur
Tak perlu berpura bodoh sepertiku
Coba engkau tutup jendela dijumat siang nanti
Dan tak perlu menorehkan tanda tanya dijitanya
Jangan mau dijamu madu
Mintalah sesejuk angin dalam dekapan gelisah membanjiri kaku tubuhmu
Bila nanti diwaktu jumat engkau dengar kembali suara dada
Cepat berkemas dan kenakan topi
Jangan mau lagi dijamu arak
Tetap tutup jendela dan pintu
Bila jumat sore tetap begitu
Bergegas pergi dan pakai sepatumu
Pergilah dengan sore walau harus memakai payung
Mintalah sewaktu-waktu agar ia berjalan mundur
Semudah diri engkau tak mau melihat punggungnya pergi
Tak perlu berpura bodoh sepertiku
Coba engkau tutup jendela dijumat siang nanti
Dan tak perlu menorehkan tanda tanya dijitanya
Jangan mau dijamu madu
Mintalah sesejuk angin dalam dekapan gelisah membanjiri kaku tubuhmu
Bila nanti diwaktu jumat engkau dengar kembali suara dada
Cepat berkemas dan kenakan topi
Jangan mau lagi dijamu arak
Tetap tutup jendela dan pintu
Bila jumat sore tetap begitu
Bergegas pergi dan pakai sepatumu
Pergilah dengan sore walau harus memakai payung
Mintalah sewaktu-waktu agar ia berjalan mundur
Semudah diri engkau tak mau melihat punggungnya pergi
Yang lapar ialah kegelisahan yang menjadi kenyang
Beri sepotong roti dicelanaku
Meminum anggur dibajuku
Biar mabuk diserap dada
Ialah betapa ingkarnya kepada mentari
Takut, seperti tak ada lagi hari berikutnya lagi
Yang lapar ialah kegelisahan yang menjadi kenyang
Meski tak dijamu minum sudah biasa.
Beri sepotong roti dicelanaku
Meminum anggur dibajuku
Biar mabuk diserap dada
Ialah betapa ingkarnya kepada mentari
Takut, seperti tak ada lagi hari berikutnya lagi
Yang lapar ialah kegelisahan yang menjadi kenyang
Meski tak dijamu minum sudah biasa.
Langganan:
Postingan (Atom)
