Minggu, 20 November 2011

Kalau Aku Kangen Di Surgamu

Aku ingin ngobrol
Apa saja yang hilang subuh tadi
Hujan gemercik mengadu riang
Aku berdiri tegang dalam riangnya

Selamat datang yang asing
Telah berlalu yang mengamuk dalam jumat siang
Seuntai kata mantra dalam hening tangis
Aku pernah dijungkirkan ketika engkau naik ke surga penuh mentari

Apa begitu nikmat air mata diminum sendiri
Sementara orang-orang riang dalam tawanya
Hening menuju doa
Kilatan petir membawamu
Itukah jalannya

Kereta melaju perlahan
Aku bisu
Tak ada yang hilang dalam perpisahan,katamu
Hanya kangen nanti seumur-umur harus ditelan saja

Gusti,,,
Rahasia siang bergetar di nadiku
Selalu resah tak jauh ubahnya rintik berlarian
Sementara aku memastikan diri di ujung kegaduhan

Yang mati tertinggal kangen dihati
Lalu siap dibunuh dalam getirnya

Waktu melingkar
Yang datang dan singgah
Lalu pergi
Luntang lantung memekik diri

Ya gusti,,,
Bagaimana..

Jumat, 18 November 2011

Senin, 14 November 2011


Untuk yang baik di hari minggu
Segala hati menjadi merah jambu
Ialah sebab engkau demikian













Tidak Tahu


Gelimang sesugukan tertahan dirongga dada itu
Tak ada yang lebih baik selain mentari setelah badai
Lalu berlalu dibawanya dalam dekapan


Aku lupa syairnya
Semua yang terdikte gagu dibibirku
Yang mengejar lalu mendekap hebat sesaknya


Tidak ada yang paling mempesona
Saat lembayung menanggalkan jingganya
Meski lenyap ditelan magrib


ya begitu saja dulu,,



Selasa, 08 November 2011

Aku hanya kangen sombongku


Bingar di otak perlahan mendenyuh ke nadiku
Pacuanku cepat berdetak
Seperti melompat girang mendapati diri
mabuk dan terlena 


Kenapa banyak orang sombong berlalu lalang?
mencari sesungging senyum diluas bibir
Atau tepuk tangan tak penting
Bagaimana geraknya merusak pandangan mata


Aku hanya mau menyapa kangen dari jauh
Sebagaimana kangen yang dimiliki orang sombong


Lama yang mengeras didalam dada menjadi semburat benci
Setelah mengelupas hari yang terlampau menjadi kenangan
Kangenkah masa-masa kemarau saat doa-doa hujan terlantukan fasih?
Sedangkan sebaliknya begitu melulu


Yang lalu mengunyah mimpi menjadi selaksa ya sudahlah
Apa aku ingkar pada keteguhan hati yang engkau sebut berlalu derita
Sementara riang gembira selalu menggoda di egoku


Hal lain yang ku tebak menjadi terkaan kesalahan dalam hidup
Apalah guna menjadi aku yang sombong seperti engkau
Menutupi kasih demi kesombongan jatuh yang tak mau bangkit setelahnya


Aku ingin terus berdoa hingga kantuk membujukku.

Kamis, 03 November 2011

Kemari Mendekat

Kemari mendekat
Definisi pasif didada kita
Aku kecewa

Kenapa terlambat memberi hati
Aku menangisi itu
Memukul dadaku lebih kencang
Berharap keluar nyeri menggumpal didadaku

Apakah kakiku terlalu rumit menujumu?
Apakah kataku terlalu gagu bilang kangenmu?

Siapa menyudutkan misteri dibalik hasratku
Terbata-bata dan aku memukul kembali dada
Yang paling benar itu ialah engkau
Ketika aku disekap matamu
Hanya tunduk dan aku menangisi itu


Rabu, 02 November 2011

Bisu dan Engkau


Kiranya begitu saja dulu
Mengadili kalimat pasif diantara selaan kata dan lagu
Hanya maumu saja yang kurang paham
Bagaimana meletakkan kangen didadaku


Hari kian hari menumpuk kesal yang berlalu menjadi semburat emosi
Semua mendera-dera
Berlarian dengan rintik hujan
Suaranya mencekik ubunmu bukan?


Apakah aku menyulitkan diri mengangap kebisingan bisumu?
Sekedar mengerti bahwa engkau hanya serupa tembok
Bisu


Kembali memakai sepatu
Aku tak ingin bertelanjang kaki
Menelusuri Lembayung
Sekalipun itu didadamu


Seadil-adil engkau bercerita
Tetap tak ada yang dapat dipahami
Melainkan kembali selalu bertanya, Mengapa?


Itu saja dulu
Kata bisu dari lakumu
Bisu dan engkau yang berkaitan
Seolah-olah aku tak pintar membaca