Begitulah
Mereka memusuhi aku
Katanya demikian suara dadaku begitu gaduh
Aku meracau pada matahari yang rewel
Segenap menjadi hitam kabut dimata
Yang tertera diwallpaper handphone mu ialah mendung bergelut petir yang dulu aku tiup
Aku percaya
Segala pedih diredam pada bantal
Cukupkan segala walau kurang dikantong celana yang bolong
Entahlah aku hanya menyampaikan katanya lewat senyuman membius aku
Cobalah berkacak pinggang lalu memarahiku
Saat itu aku akan bersorak gembira
Lebih apapun aku senang engkau memarahiku
Melaju ego yang engkau melulu tersembunyi dikemeja merah jambumu
Aku menata kangen yang rumit didalammu
Segala menjadi salah yang berbalas tai menjijikan
Aku tertahan walau mata sudah berkaca-kaca
Lalu aku telan ludah mengganjal ditenggorokan
Sebegitu parahkah kangen kita?
Selasa, 20 Maret 2012
Senin, 12 Maret 2012
Aku hanya punya itu sayang
Dalam diri mengapa aku tidak menjadi engkau
Tak ada yang indah dikacamatamu
Sebanyak diri memegang kendali
Aku senang bersembunyi
Lalu pura-pura takut
Padahal yang menantiku aku malas menyentuh
Serupa api membakar padahal aku punya banyak air
Yang didikte itu sangat jelas terbata-bata
Yang cacat cuman pena dalam tulisan
Masih saja menggebu iri dihati
Tidak tahu bagaimana bernyanyi merdu didendang telingamu?
Saat suara parau melindas ditenggorokan lalu engkau tertunduk pasrah saja
Aku hanya punya itu sayang.
Nanti setahun lagi aku kembali
Membawa tape recorder
Lalu siap mengajakmu berdansa
Tanpa tepuk tangan
Karena bagiku terlalu berlebihan
Untuk orang sepertiku
Langganan:
Postingan (Atom)
