Selasa, 13 Desember 2011

Sorak sorai gembira
Ada engkau ditepuk tanganku


Hari demikian aku terbahak yang dipunguti sisa jatuh
Terimakasih sayang
Hariku sempurna.

Minggu, 20 November 2011

Kalau Aku Kangen Di Surgamu

Aku ingin ngobrol
Apa saja yang hilang subuh tadi
Hujan gemercik mengadu riang
Aku berdiri tegang dalam riangnya

Selamat datang yang asing
Telah berlalu yang mengamuk dalam jumat siang
Seuntai kata mantra dalam hening tangis
Aku pernah dijungkirkan ketika engkau naik ke surga penuh mentari

Apa begitu nikmat air mata diminum sendiri
Sementara orang-orang riang dalam tawanya
Hening menuju doa
Kilatan petir membawamu
Itukah jalannya

Kereta melaju perlahan
Aku bisu
Tak ada yang hilang dalam perpisahan,katamu
Hanya kangen nanti seumur-umur harus ditelan saja

Gusti,,,
Rahasia siang bergetar di nadiku
Selalu resah tak jauh ubahnya rintik berlarian
Sementara aku memastikan diri di ujung kegaduhan

Yang mati tertinggal kangen dihati
Lalu siap dibunuh dalam getirnya

Waktu melingkar
Yang datang dan singgah
Lalu pergi
Luntang lantung memekik diri

Ya gusti,,,
Bagaimana..

Jumat, 18 November 2011

Senin, 14 November 2011


Untuk yang baik di hari minggu
Segala hati menjadi merah jambu
Ialah sebab engkau demikian













Tidak Tahu


Gelimang sesugukan tertahan dirongga dada itu
Tak ada yang lebih baik selain mentari setelah badai
Lalu berlalu dibawanya dalam dekapan


Aku lupa syairnya
Semua yang terdikte gagu dibibirku
Yang mengejar lalu mendekap hebat sesaknya


Tidak ada yang paling mempesona
Saat lembayung menanggalkan jingganya
Meski lenyap ditelan magrib


ya begitu saja dulu,,



Selasa, 08 November 2011

Aku hanya kangen sombongku


Bingar di otak perlahan mendenyuh ke nadiku
Pacuanku cepat berdetak
Seperti melompat girang mendapati diri
mabuk dan terlena 


Kenapa banyak orang sombong berlalu lalang?
mencari sesungging senyum diluas bibir
Atau tepuk tangan tak penting
Bagaimana geraknya merusak pandangan mata


Aku hanya mau menyapa kangen dari jauh
Sebagaimana kangen yang dimiliki orang sombong


Lama yang mengeras didalam dada menjadi semburat benci
Setelah mengelupas hari yang terlampau menjadi kenangan
Kangenkah masa-masa kemarau saat doa-doa hujan terlantukan fasih?
Sedangkan sebaliknya begitu melulu


Yang lalu mengunyah mimpi menjadi selaksa ya sudahlah
Apa aku ingkar pada keteguhan hati yang engkau sebut berlalu derita
Sementara riang gembira selalu menggoda di egoku


Hal lain yang ku tebak menjadi terkaan kesalahan dalam hidup
Apalah guna menjadi aku yang sombong seperti engkau
Menutupi kasih demi kesombongan jatuh yang tak mau bangkit setelahnya


Aku ingin terus berdoa hingga kantuk membujukku.

Kamis, 03 November 2011

Kemari Mendekat

Kemari mendekat
Definisi pasif didada kita
Aku kecewa

Kenapa terlambat memberi hati
Aku menangisi itu
Memukul dadaku lebih kencang
Berharap keluar nyeri menggumpal didadaku

Apakah kakiku terlalu rumit menujumu?
Apakah kataku terlalu gagu bilang kangenmu?

Siapa menyudutkan misteri dibalik hasratku
Terbata-bata dan aku memukul kembali dada
Yang paling benar itu ialah engkau
Ketika aku disekap matamu
Hanya tunduk dan aku menangisi itu


Rabu, 02 November 2011

Bisu dan Engkau


Kiranya begitu saja dulu
Mengadili kalimat pasif diantara selaan kata dan lagu
Hanya maumu saja yang kurang paham
Bagaimana meletakkan kangen didadaku


Hari kian hari menumpuk kesal yang berlalu menjadi semburat emosi
Semua mendera-dera
Berlarian dengan rintik hujan
Suaranya mencekik ubunmu bukan?


Apakah aku menyulitkan diri mengangap kebisingan bisumu?
Sekedar mengerti bahwa engkau hanya serupa tembok
Bisu


Kembali memakai sepatu
Aku tak ingin bertelanjang kaki
Menelusuri Lembayung
Sekalipun itu didadamu


Seadil-adil engkau bercerita
Tetap tak ada yang dapat dipahami
Melainkan kembali selalu bertanya, Mengapa?


Itu saja dulu
Kata bisu dari lakumu
Bisu dan engkau yang berkaitan
Seolah-olah aku tak pintar membaca






Minggu, 30 Oktober 2011


Biru


terkesan mengejutkan di hati yang pilu lalu membakar dijantung langit
bukannya semacam iri yang tak diberi adil mengusai anganku
hilang yang menjadi akal karena cemburu digenggaman sore itu


Dimana aku bisa mencumbu biru dirimu yang merah?
Sebab angan mulai merogoh pacuan jantung berbenturan di sukmamu


Tidak bolehkah bernyanyi di pagimu saja?
Sang siang bergelut awan mendung saling bertiupan
Lihat kita semua terpukau gembira karena hujan akan tiba setelah kemarau mengamuk


Yang biru itu aku
Sementara ia hanya biasnya saja di sore itu


Setulus diri inginnya ingkar atas semua ucapan di hari selasa kemarin
Aku tak menyadari itu hanya semu bias tembok
Lalu yang fakta hanya aku yang ngilu
Sedemikian diceritakan setelah mendera tangisan deras dibantalku


Aku cerita kepada engkau 
Yang biru Lalu membias ungu
Seperti kala itu hilang disore

Jumat, 28 Oktober 2011

Karena Kita Makhluk Aneh Yang Mesra

hujannya kemana?
katanya mau kasih bingkisan mentari setelahnya
bukan hangatnya mendera dihati lalu jadi sepucuk kangen sendu

bagaimana aku menyembunyikan mentari dikamarku?
sementara diluar rumah mendung tak terkira seramnya

semalam kita bertengkar dahsyat lewat telpon
inginnya kita saling mencaci didepan muka
hanya saja jarak yang kangen menjadi lunak kembali di diri kita karenanya

sayang,,,,
ayo menari saja
dari pada ingkar janji dan menangis sesudahnya

aku tahu diri tentang wanita bangsatmu itu
ia cemburu bukan atas pelukan mesraku yang mendarat di dadamu?

yah engkau tak ubahnya hujan badai lalu adil membawa mentari setelah itu
kita luar biasa tarik menarik meski nyinyir hati ngilu sesakit ucapan kita
namun kita tetap saling memeluk walau tak berucap maaf

sayang,,,,
warna mendung dimatamu ialah aku yang buat
ketika mentari ungu sembab dimataku karena ulahmu

kita makhluk aneh
saling melukai namun membenahinya dengan secangkir teh
yang hangat membangkitkan gairah cinta kita

engkau yang tegap lalu siap menangkapku dari lompatan
walau sesering sekali kita sama sama melompat nyeri
namun kita sama sama berbenah hati demi sesuatu yang dinamakan cinta

yah,,,,kita makhluk aneh yang mesra

Minggu, 23 Oktober 2011


Aku Harus Kangen

setiap menjadi diri, lalu gempalan emosi menghantam lebih keras lagi.
takut menanti yang malam hilang
saat itu aku bersembunyi dibelakang fotomu

adakah yang menantiku?
serupa engkau yang berlalu
adakah yang menghampiri aku?
serupa angin menghembus sejuk

aku bertanya-tanya pada tembok yang kerap kali mengolokku
dengarkah dalam hati meminta sesuatu namun tak sampai
menjadi daging yang tumbuh disekitar emosiku
hal serupa dalam mimpi itu-itu saja yang hadir
takut,ketakutan.

aku menerima cacian dahsyat semalam ditempat tidurku
terpejam dan menangis sendu hingga fajar
tak heran mata sembab serupa kangen yang selama ini ku simpan dalam plastik
aku harus kangen
karena itu satu-satunya yang aku miliki dari engkau tiada jumpa kembali sampai nanti

aku menarik bajuku yang masih baru
heran bagaimana lekatnya menutupi tubuhku dipesta asing itu
semua ramai
lalu kenapa hanya aku yang merasa sepi

aku mencoba ngobrol kembali dengan tembok dekat ranjangku
menanyakan beberapa kalimat janji yang lupa aku ingat
barangakali dulu aku berjanji untuk selalu kangen kepada engkau yang sulit ku jumpai kembali
mungkin saja kali ini aku lupa

yah lupa dengan dulu menjadi sembab
dan kini riang gembira meski harus serupa gila.

Kamis, 20 Oktober 2011

 kangen sendu

bagaimana menjadi bijak dikelingan matamu
agar senantiasa kangen bersenandung tanpa diucap mesra diantara amarah kita
suara parau itu bunyi otak keramku


aku ingin melompat lalu girang dan gembira dihari minggu
biar engkau melihatku saja
tarian itu biar aku saja
karena engkau hanya berpura-pura menari sukacita

aku tahu siapa dirimu dimalam itu
engkau yang menjerat hati lalu mengajariku bahasa
meski tak tahu bagaimana tulisan untuk engkau simpan kelak


aku selalu kangen
kangen sendu meski selalu begitu


Senin, 17 Oktober 2011