Minggu, 23 Oktober 2011


Aku Harus Kangen

setiap menjadi diri, lalu gempalan emosi menghantam lebih keras lagi.
takut menanti yang malam hilang
saat itu aku bersembunyi dibelakang fotomu

adakah yang menantiku?
serupa engkau yang berlalu
adakah yang menghampiri aku?
serupa angin menghembus sejuk

aku bertanya-tanya pada tembok yang kerap kali mengolokku
dengarkah dalam hati meminta sesuatu namun tak sampai
menjadi daging yang tumbuh disekitar emosiku
hal serupa dalam mimpi itu-itu saja yang hadir
takut,ketakutan.

aku menerima cacian dahsyat semalam ditempat tidurku
terpejam dan menangis sendu hingga fajar
tak heran mata sembab serupa kangen yang selama ini ku simpan dalam plastik
aku harus kangen
karena itu satu-satunya yang aku miliki dari engkau tiada jumpa kembali sampai nanti

aku menarik bajuku yang masih baru
heran bagaimana lekatnya menutupi tubuhku dipesta asing itu
semua ramai
lalu kenapa hanya aku yang merasa sepi

aku mencoba ngobrol kembali dengan tembok dekat ranjangku
menanyakan beberapa kalimat janji yang lupa aku ingat
barangakali dulu aku berjanji untuk selalu kangen kepada engkau yang sulit ku jumpai kembali
mungkin saja kali ini aku lupa

yah lupa dengan dulu menjadi sembab
dan kini riang gembira meski harus serupa gila.

1 komentar: