Minggu, 30 Oktober 2011


Biru


terkesan mengejutkan di hati yang pilu lalu membakar dijantung langit
bukannya semacam iri yang tak diberi adil mengusai anganku
hilang yang menjadi akal karena cemburu digenggaman sore itu


Dimana aku bisa mencumbu biru dirimu yang merah?
Sebab angan mulai merogoh pacuan jantung berbenturan di sukmamu


Tidak bolehkah bernyanyi di pagimu saja?
Sang siang bergelut awan mendung saling bertiupan
Lihat kita semua terpukau gembira karena hujan akan tiba setelah kemarau mengamuk


Yang biru itu aku
Sementara ia hanya biasnya saja di sore itu


Setulus diri inginnya ingkar atas semua ucapan di hari selasa kemarin
Aku tak menyadari itu hanya semu bias tembok
Lalu yang fakta hanya aku yang ngilu
Sedemikian diceritakan setelah mendera tangisan deras dibantalku


Aku cerita kepada engkau 
Yang biru Lalu membias ungu
Seperti kala itu hilang disore

Tidak ada komentar:

Posting Komentar